-->

Indeks Kebahagiaan (Happiness Index) Negara Atheis VS Negara Religius

Hallo Sahabat Fakta Terbalik...

Wahhhh ngeri-ngeri sedap ya judul artikel kita kali ini ☺☺☺

Refleks saya sih pengennya ngomong: 
Gimana mau bahagia, orang disuruh menunda hidup di masa sekarang (yang jelas-jelas ada) supaya beroleh hidup di (katanya ada) masa depan (after life). Belum lagi hal ini selalu dimanfaatkan penguasa untuk memperoleh maunya dari bawahannya.

Ini jenis threat yang perlu diriset besar-besaran wkwkwk.... Harus hati-hati dan tidak cepat berkesimpulan soal ginian, walau mungkin jelas-jelas ada korelasi seperti akan ditunjukkan lewat peta di bawah.

Untungnya riset saya saat ini memang mengupas hal ini, jadi literatur ilmiahnya sedikit-banyak saya baca #eaaaaa

(Keterangan: yang akan tampil di bawah adalah grafik-grafik populer tentang populasi penduduk (a)teistik di negara-negara di dunia)

https://faktaterbalik.blogspot.com/

Eh maaf, salah peta.....☺☺☺☺

*Ini peta ateisme negara-negara di dunia. Kutub merah berarti penduduknya semua mengaku bertuhan, dan kutub hijau berarti >=75% penduduknya mengaku tak ber-Tuhan.
https://faktaterbalik.blogspot.com/

*Ini peta teisme negara-negara di Eropa dan Amerika Utara. Kutub putih berarti semua penduduknya mengaku tak bertuhan, dan kutub biru gelap berarti >=90% penduduknya mengaku ber-Tuhan.
https://faktaterbalik.blogspot.com/

Saya pelan-pelan ajalah mikirnya.

Dari peta diatas, kelihatannya region yang cenderung banyak penduduknya yang mengaku ateis adalah region yang secara ekonomi sudah stabil dan infrastruktur, sistem kesehatan, dan sistem pendidikannya juga agaknya sudah merata (alias inklusif).

Plus, definisi ateis di sini harus jelas: tidak menganggap suatu sosok supernatural dan lebih berkuasa itu ada atau relevan bagi kehidupan umat manusia. Mungkin itu bisa menjelaskan kenapa RRC di situ hijau gelap. Kong Hu Cu dan Taoisme dan Buddhisme bisa saja dianggap ateisme, walaupun mereka bisa disebut agama.

Amerika Serikat, walau mengaku negara nomor satu dunia, infrastrukturnya sangat tidak merata dan kesenjangan ekonominya besar antara yang kaya dan miskin.

Selain itu, Amerika Serikat masih terhitung konservatif (baca: segregatif dalam berbagai bidang kehidupan, seperti gender, agama, warna kulit, etnis, strata sosial, pandangan politik) kalau dibandingkan negara lain, seperti tetangganya Kanada atau tentunya Eropa. Saya sedang tidak memegang sumbernya, tapi cukup banyak literatur yang mengupas hal ini kalau mau mencari.

Jadi, AS sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia dari segi karakteristik-karakteristik di atas, plus mereka juga memiliki populasi yang sangat besar seperti Indonesia. Di peta dunia ia cuma dapat warna kuning, dan minimal cuma biru sedang di peta Amerika Utara.

Meski demikian, populasi penduduk AS yang mengaku beragama memang trennya juga terus menurun.

Saya melihat ada dua kemungkinan penjelasan (yang bisa saja saling melengkapi, tidak eksklusif) untuk pertanyaan OP.

(1) Kalau melihat jalannya sejarah, Eropa lebih dulu berani terus terang melepaskan diri dari belenggu agama yang dogmatik dan mengunci setiap sendi kegiatan manusia, ketika negara-negara, filsuf-filsuf, dan ilmuwan-ilmuwannya berani keluar dari selimut kekuasaan Gereja saat itu. Sejak itulah banyak pandangan yang berusaha menemukan makna bagi keberadaan umat manusia, dan bagaimana meningkatkan kualitas hidupnya, tidak lagi hanya menurut pada satu cara saja tanpa bisa mengkritisi mengapa dan bagaimana, apakah cara tersebut memang menghasilkan yang diinginkan. 

Mereka tidak lagi takut pada gagasan baru atau berbeda, dan bersedia mempertimbangkan bahwa apa yang baru atau berbeda itu mungkin saja benar alih-alih pandangan sendiri. Sejak saat itu, gagasan-gagasan didiskursuskan, teknologi-teknologi diciptakan, pengetahuan-pengetahuan disebarluaskan. Betapapun otoritas agama atas nama tuhan menyetan-nyetankan perbedaan dan kemajuan tersebut (suatu hal yang kita sedang lihat di Indonesia sekarang, dan sayangnya polytikus-polytikus malah menyiram bensin ke dalam api), ia tak terbendung.

(2) Mengikuti poin #1, manusia akhirnya belajar bagaimana menjaga mulianya kehidupan manusia, dimulai dari yang paling mendasar: bagaimana memenuhi kebutuhan dasar manusia? Makan dan minum. Bukan hanya bagi satu-dua kepala, tapi bagi seluruh populasi. Kemudian masih ada pula masalah sanitasi dan perumahan (mis. pembuangan kotoran manusia dan hewan, sumber air bersih), bagaimana bisa menopang kehidupan manusia dan menjaga kemuliaannya. 

Hal ini terus bergulir seperti bola es yang makin besar, dengan memikirkan bagaimana caranya umat manusia bisa melawan penyakit-penyakit (yang dulu sangat mewabah dan sangat mematikan namun kini dianggap remeh, bahkan penduduk Indonesia sampai tolak imunisasi) seperti TBC, tifoid, malaria, dan penyakit-penyakit yang menurunkan produktivitas (baca: kemuliaan) manusia, macam polio dan cacar. Saat ini juga para pemimpin dunia sudah jauh lebih panjang pikir daripada di masa lampau, dan perang bukanlah sesuatu yang begitu mudah terjadi. 

Kalau mau sangat menyederhanakan, semua hal ini bisa di-proxy lewat satu angka: usia harapan hidup. Dari 30 tahun menjadi 80 tahun hanya dalam jangka waktu 3 abad atau kurang (lupa persisnya). Seperti di Indonesia sekarang, orang kecelakaan, kena sakit-penyakit, atau mati cepat dulu dianggap sebuah garisan hidup atau takdir atau suratan yang kuasa; eh, tapi umat manusia menemukan bahwa (nyata-nyata bisa kita lihat) rupanya hal tersebut memiliki faktor-faktor yang bisa dimanipulasi untuk memperbaiki outcome. Kita hidup di zaman yang jauh lebih enak, sampai-sampai sebagian orang Indonesia tak punya perspektif tentang sukarnya mencapai keadaan enak ini.

Ketika hal-hal mendasar, alat-alat kehidupan: makan cukup dan air bersih, istirahat, kesehatan, dkk. terjamin, maka manusia bisa berpikir lebih jauh. Ini seperti siklus/lingkaran setan (er, tapi yang baik, jadi… lingkaran tuhan?), di mana ketika hal ini terjamin, maka manusia menjadi kreatif dan produktif. Demikian seterusnya berulang. 

Hal ini paralel dengan piramida kebutuhan Maslow: ketika hal-hal fisik terpenuhi, manusia bisa melibatkan diri dalam kegiatan sosial, aktualisasi diri, dan transendensi diri. ALIAS BAHAGIA. Gagasan-gagasan terus berkembang, teknologi-teknologi ditingkatkan, dan manusia bisa berpikir bagaimana menolong sesamanya.

Kita bukan hanya “ya udahlah” atau pasrah, atau “kita serahkan semuanya sama yang kuasa”, tapi giat mencari jawaban. Kita jadi mikir dan jadi bertindak, gimana memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup umat manusia dan lingkungan tempat tinggalnya.

Kesimpulan cepat dan sangat menyederhanakan: manusia bahagia ketika bisa sehat, makan, minum, istirahat, berinteraksi sosial, bekerja, beroleh pendidikan, menghasilkan kreativitas, dan mengapresiasi seni dan bisa memperoleh itu semua secara setara dan tidak segregatif serta tidak di bawah opresi atau paksaan sebuah otoritas, seperti bisa dilihat di peta-peta di atas. 

Hal-hal ini: izin berpikir kritis/bertanya dan menjadi pintar, non segregasi, non opresi, kesetaraan, bisa dibayangkan sampai sekarang sulit ditemui di negara-negara yang mencampur-campur pemerintahan dengan sosok supernatural mahakuat dan pencemburu.

Saya merasa terlalu cepat mengakhiri jabaran arus pikiran saya, dan saya merasa tulisan ini masih kurang runut, tapi apa boleh buat, waktu selalu jadi pembatas. Jadi, mungkin sejauh ini kilasan super ringkas yang bisa saya berikan, mohon maaf jika masih kurang memuaskan. Mari berdiskusi.

Sumber: quora.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Indeks Kebahagiaan (Happiness Index) Negara Atheis VS Negara Religius"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel